Kamis, 29 Maret 2012

PENDIDIKAN KARAKTER BAGI MAHASISWA ( BIAR TIDAK SELALU ANARKI )


Pendidikan karakter di beberapa negara sudah mendapatkan prioritas sejak pendidikan dasar dimulai.
Namun di Indonesia, pendidikan karakter masih dipandang sebagai wacana dan belum menjadi bagian yang
terintegrasi dalam pendidikan formal. Artikel ini membahas tentang pentingnya pendidikan karakter dalam
sistem pendidikan formal. Dimulai dengan melihat contoh manfaat pendidikan karakter di negara lain
seperti Amerika dan Cina. Kemudian, dilanjutkan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh Jurusan Teknik
Industri UK Petra untuk merancang pendidikan karakter yang sistematis dan terintegrasi dalam kurikulum
bagi mahasiswa sebagai persiapan menuju ke dunia kerja. Usaha tersebut antara lain penetapan pendidikan
karakter sebagai salah satu rencana strategis jurusan, penetapan tim, perancangan dan pelaksanaan program
pendidikan karakter, evaluasi, serta usaha perbaikan terus menerus.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (UU No 20 Tahun 2003). Selanjutnya disebutkan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagai berikut :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.
Amanat UU No 20 Tahun 2003 sangat jelas bahwa pendidikan pada hakekatnya adalah mengembangkan potensi diri peserta didik menjadi kemampuan dengan dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan, kepribadian, akhlak mulia, dan kemandirian. Dengan demikian, pendidikan mempunyai peran yang strategis dalam membangun karakter mahasiswa. Mahasiswa sebagai peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan satuan pendidikan tertentu. Oleh karena mahasiswa merupakan subyek didik di pendidikan tinggi, maka dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut diperlukan pembimbingan kemahasiswaan yaitu pembimbingan seluruh kegiatan mahasiswa sebagai peserta didik selama dalam proses pendidikan.
Mahasiswa merupakan asset bangsa, sebagai intelektual muda calon pemimpin masa depan. Sehubungan dengan hal tersebut Direktur Jendral Pendidikan Tinggi pada pengarahan Rakornas Bidang Kemahasiswaan Tahun 2011, menegaskan bahwa pembimbingan mahasiswa diprioritaskan pada:

1. Pengembangan kemampuan intelektual, keseimbangan emosi, dan penghayatan spritual mahasiswa, agar menjadi warga negara yang bertanggung jawab serta berkontribusi pada daya saing bangsa.
2. Pengembangan mahasiswa sebagai kekuatan moral dalam mewujudkan masyarakat madani yang demokratis, berkeadilan, dan berbasis pada partisipasi publik.
3. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana untuk mendukung pengembangan dan aktualisasi diri mahasiswa; kognisi, personal, sosial.
Bila diperhatikan arah pembimbingan mahasiswa tersebut adalah pembentukan kapasitas dan jati diri mahasiswa yang antara lain diwujudkan dalam sikap, perilaku, kepribadian, dan karakter yang terpuji.
Pendidikan mempunyai peranan yang strategis dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu masyarakat menaruh harapan dan perhatian yang besar terhadap pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap keberhasilan proses pendidikan, telah mencanangkan visinya yaitu “untuk menghasilkan insan yang cerdas secara koprehensif dan kompetitif”. Menyikapi visi Depdiknas tersebut perguruan tinggi (PT) dituntut responsif dalam melakukan pembinanan terhadap mahasiswa. Untuk menghasilkan lulusan PT yang cerdas dan kompetitif diperlukan perhatian terhadap berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dalam konteks pembelajaran, faktor pendidik, peserta didik, sarana prasarana, dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar. Pembelajaran tidak hanya membekali pengetahuan dan ketrampilan, tetapi yang lebih mendasar adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan. Mahasiswa sebagai peserta didik mempunyai berbagai ragam potensi, untuk mengembangkannya membutuhkan pembinaan secara kontinue dan ketersediaan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung lainnya. Untuk mengembangkan potensi mahasiswa tersebut, UNY berusaha menyediakan sarana dan prasarana yang memadahi sebagai sarana mengembangkan iklim akademik (academic atmosfir) di kampus, menyediakan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi informasi (IT), menyediakan sarana dan prasarana untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Sarana dan prasarana dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadahi dan dapat diakses oleh mahasiswa malalui wadah Unit-Unit kegiatan mahasiswa (UKM) olahraga, seni, dan minat khusus. Semua fasilitas tersebut dapat diakses setiap saat bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan potensinya di bidang olahraga, seni, dan minat khusus.
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai perguruan tinggi pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) mempunyai peran yang sangat strategis dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia, mengingat untuk menghasilkan sumber daya yang berkualitas diperlukan tenaga pendidik yang profesional. Tenaga pendidik yang profesional adalah tenaga pendidik yang telah memenuhi atau menguasai standar kompetensi tenaga pendidik, yaitu (1) kompetensi pedagogik, tenaga pendidik dituntut menguasai prinsip-prinsip pendidikan dan peserta didik, (2) kompetensi kepribadian, seorang tenaga pendidik harus mempunyai kepribadian yang kuat, disiplin, jujur, dan mempunyai komitmen yang tinggi, (3) kompetensi sosial, seorang tenaga pendidik harus mampu dan mau berkomunikasi dengan siapa saja, baik dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat, (4) kompetensi profesional, seorang tenaga pendidik harus menguasai materi sesuai dengan bidang studi yang diajarkan.

B. Sasaran Pembinaan Kegiatan Kemahasiswaan
Sebagai institusi LPTK, UNY mempunyai kewajiban membekali mahasiswa agar setelah lulus mempunyai kompetensi sebagaimana dipersyaratkan tenaga pendidik profesional. Untuk memenuhi hal tersebut UNY telah merumuskan visinya, yaitu menghasilkan insan yang bernurani, mandiri, dan cendekia. Untuk mewujudkan visi cendekia dilakukan melalui kegiatan kurikuler atau kegiatan akademik sesuai dengan bidang studinya, sedangkan untuk mewujudkan visi bernurani dan mandiri, selain kegiatan terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran atau ko kurikuler, juga dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Agar kegiatan-kegiatan tersebut dapat memenuhi harapan, maka telah dirancang program pembinaan kemahasiswaan untuk lima tahun kedepan. Sasaran pembinaan kemahasiswaan diarahkan pada (1) pembentukan sikap dan jati diri mahasiswa sebagai insan akademik yang memahami etika, tatacara berkomunikasi, menggunakan nalar, serta memahami hak dan kewajibannya sebagai warga kampus maupun warna negara Indonesia, (2) pengembangan kegiatan kemahasiswaan menuju pada peningkatan moral, penalaran, kreativitas, menumbuhkan daya saing dan entrepreunership, peningkatan kebugaran, sportivitas dan kepedulian sosial, (3) pengembangan organisasi kemahasiswaan yang demokratis dan efektif. Melalui pembinaan tersebut diharapkan dapat menghasilkan lulusan UNY yang mempunyai kemampuan akademik bagus dan mempunyai kepribadian serta karakter yang unggul.
Untuk menjamin kelangsungan pembinaan dan pembimbingan kegiatan kemahasiswaan diperlukan wadah yang memenuhi unsur legalitas. Wadah pembinaan tersebut mengacu pada Kepmen No 155/U/1998, pasal 1 yang menyebutkan bahwa organisasi kemahasiswaan (Ormawa) intra-perguruan tinggi adalah wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa ke arah perluasan wawasan dan peningkatan kecendekiawanan serta integritas kepribadian untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi. Selanjutnya disebutkan fungsi ormawa adalah sebagai:
1. Perwakilan mahasiswa tingkat PT untuk menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiswa, menetapkan garis-garis besar program dan kegiatan kemahasiswaan.
2. Pelaksana kegiatan kemahasiswaan.
3. Pengembangan potensi jatidiri mahasiswa sebagai insan akademi, calon ilmuwan dan intelektual yang berguna di masa depan.
4. Pengembangan pelatihan keterampilan organisasi, manajemen, dan kepemimpinan mahasiswa.
5. Pembinaan dan pengembangan kader-kader bangsa yang berpotensi dalam melanjutkan kesinambungan pembangunan nasional.
6. Untuk memelihara dan mengembangkan ilmu dan teknologi yang dilandasi oleh norma-norma agama, akademis, etika, moral, dan wawasan kebangsaan.
Malalui wadah ormawa mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya melalui berbagai aktivitas dalam rangka pengembangan kreativitas, penalaran, kepempimpinan, dan pengabdian pada masyarakat. Implementasi pembinaan kemahasiswaan tersebut dilakukan melalui wadah organisasi yang berorientasi pada tata kelola, kepemimpinan, dan managerial. Yang termasuk organisasi ini adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Majlis Permusyawaratan Mahasiswa (DPM). Sedangkan wadah untuk mengembangkan potensi diri mahasiswa dilakukan melalui organisasi pengembangan kemahasiswaan bakat, minat, kegemaran, dan kesejahteraan yaitu melalui organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Sampai saat ini UKM yang tersedia di UNY meliputi; (1) UKM Penalaran (terdiri dari UKM penelitian, bahasa asing, penerbitan mahasiswa Ekspresi, penyiaran mahasiswa Magenta), (2) UKM Seni (UKM Kamasetra, UKM Unstrat, UKM Paduan suara, dan UKM Sigma Band), (3) UKM Olahraga (sepakbola, bola basket, tenis lapangan, tenis meja, bulu tangkis, atletik, sepak takraw, soft ball, catur, tae kwon do, karate, pencak silat, yudo, marching band, bola volley, futsal, panahan), UKM Minat Khusus (KSR-PMI, pramuka, resimen mahasiswa, pecinta alam Madawirna).
Pada dasarnya kegiatan dalam program pengembangan kemahasiswaan dapat dikelompokkan atas (Polbangmawa, 2005):
1. Penalaran dan Keilmuan.
Program dan kegiatan kemahasiswaan yang bertujuan menanamkan sikap ilmiah, merangsang daya kreasi dan inovasi, meningkatkan kemampuan meneliti dan menulis karya ilmiah, pemahaman profesi, dan kerjasama dalam tim, baik pada perguruan tingginya maupun antar perguruan tinggi di dalam dan di luar negeri.
2. Bakat, Minat, dan Kemampuan
Program dan kegiatan kemahasiswaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam manajemen praktis, berorganisasi, menumbuhkan aspirasi terhadap olahraga dan seni, kepramukaan, belanegara, cinta alam, jurnalistik, dan bakti sosial.
3. Kesejahtaraan
Program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan fisik, mental, dan kerochanian mahasiswa. Kegiatan ini dapat berbentuk; beasiswa, asrama mahasiswa, kantin mahasiswa, koperasi mahasiswa, poliklinik, dan kegiatan lain yang sejenis.
4. Kepedulian Sosial
Program yang bertujuan untuk meningkatkan pengabdian pada masyarakat, menanamkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, menumbuhkan kecintaan kepada tanah air dan lingkungan, kesadaran kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang bermartabat.
Pembinaan kemahasiswaan membutuhkan komitmen yang tinggi, serta kerjasama antar pengelola, pembina, dan mahasiswa. Pengalaman dilapangan menunjukkan bahwa mahasiswa mempunyai varian yang cukup besar ditinjau dari minat, motivasi, dan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu diperlukan penyamaan visi, penyatuan langkah, kecepatan dan ketepatan dalam bertindak baik organisasi kemahasiswaan (ormawa) maupun unit kegiatan mahasiswa (UKM). Kondisi semacam ini harus disadari oleh setiap Pembina kemahasiswaan karena mahasiswa dalam konteks beraktivitas dan berorganisasi masih dalam ranah belajar, mereka memerlukan pendampingan dan bimbingan. Menghadapi hal ini dibutuhkan kearifan dan kesabaran para pembina, pendamping, dan pengelola kemahasiswaan. Sebab organisasi kemahasiswaan yang berada di dalam kampus pada dasarnya mahasiswa sedang dalam konteks belajar berorganisasi. Mahasiswa dalam konteks belajar berorganisasi berupaya mengelola organisasi mempunyai komitmen dan semangat untuk belajar secara menerus, meningkatkan dirinya untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan demi keberhasilan bersama. Dalam konteks organisasi belajar, juga memberdayakan sumber daya manusia di dalam dan sekitarnya, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan proses belajar dan produktivitasnya. Sebagai warga kampus maupun anggota organisasi intra kampus, mahasiswa dalam melakukan aktivitasnya tidak lepas dari aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Ada lima komponen yang saling terkait menentukan keberhasilan suatu organisasi belajar di dalam kampus, yaitu (Peter Senge, 1996):
1. Shared vision (visi bersama), adanya visi-misi-tujuan hasil kesepakatan bersama yang dirumuskan dan difahami oleh semua warga kampus. Oleh karenanya untuk menuju Universitas yang mengedepankan karakter, UNY harus mengembangkan visi misi bersama. Visi UNY yang ada selama ini jangan sampai hanya berupa pernyataan visi (statement of vision) belaka, tetapi hendaknya menjadi visi bersama (shared vision).
2. System thinking (berfikir sistem), UNY sebagai perguruan tinggi yang cukup besar (dengan jumlah mahasiswa 35.000-an orang), merupakan organisasi yang terdiri dari unit-unit kerja Fakultas, Pascasarjana, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK), Biro Administrasi Akdemik, Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Sistem Informasi (BAKPSI) dalam melakukan aktivitasnya mendasarkan pada sistem yang telah disepakati bersama. Dengan demikian setiap unit kerja termasuk organisasi kemahasiswaan (ormawa) aktivitasnya harus sejalan dan seiring dengan visi dan misi Universitas.
3. Personal mastery (SDM yang berkualitas), setiap warga UNY, dosen, karyawan, mahasiswa dituntut untuk mengembangkan diri sesuai dengan tuntutan tugas pokok dan fungsinya. Dalam konteks pengembangan pendidikan karakter, telah dilakukan berbagai program antara lain; tutorial pendidikan agama bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah pendidikan agama, seminar internasional, mendatangkan dosen tamu, peningkatan kemampuan bahasa asing bagi mahasiswa, pengiriman mahasiswa, dosen, dan karyawan ke beberapa negara, pengiriman studi lanjut dalam dan luar negeri, dan pelatihan dalam rangka meningkatkan kemampuan yang mendukung pelaksanaan tugas.
4. Mental models (model mental), cara berfikir atau mind set dan perilaku setiap warga UNY harus dapat menjadi model bagi yang lain. Dalam rangka pengembangan karakter setiap warga UNY harus memiliki mental dan kepribadian yang dapat diterima secara universal. Budaya bersih, rapi, sopan dan santun, disiplin waktu, obyektif, berfikir terbuka dan ingin terus maju, merupakan contoh mentalitas dan kepribadian yang harus dikembangkan sehingga menjadi budaya milik bersama warga kampus.
5. Team learning (belajar bersama), setiap warga UNY harus selalu berusaha bersama untuk meningkatkan profesionalitas dan produktivitas kerja. Budaya saling kerjasama, bahu membahu dalam melaksanakan tugas, saling percaya diantara sesama warga UNY, budaya belajar harus dikembangkan sehingga tercipta iklim akademik yang kondusif. Ibarat sebuah kesebelasan sepak bola, tujuannya adalah memenangkan pertandingan dengan mencetak goal sebanyak-banyaknya melalui permainan yang taktis dan cantik. Tetapi, di dalam kesebelasan ada kiper, penyerang, gelandang dan pertahanan yang masing-masing mempunyai peran dan fungsi, tetapi sebagai kesebelasan harus mampu bekerjasama sebagai sebuah tim, demikian halnya dengan lembaga pendidikan sebagaimana Universitas Negeri Yogyakarta.

C. Kegiatan Kemahasiswaan sebagai Sarana Pendidikan Karakter Mahasiswa.

Perhatian Pemerintah terhadap pengembangan pendidikan karakter sangat besar, hal ini ditunjukkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono pada puncak acara Hardiknas 2010, memberikan penghargaan kepada para guru yang telah berhasil mengembangkan dan melaksanakan pendidikan karakter di sekolahnya. Pada kesempatan yang sama Mendiknas M. Nuh mengatakan bahwa pendidikan karakter sangat penting, beliau mengungkapkan bahwa pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya membangun karakter bangsa, karakter yang dijiwai nilai-nilai luhur bangsa. Apa yang dikatakan Mendiknas tersebut sangat mendasar, mengingat bangsa yang berkarakter unggul, di samping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad, dan energi yang kuat. Untuk mencapai kondisi yang demikian diperlukan kebersamaan pola berfikir dan bertindak dari semua elemen bangsa. Hal tersebut sulit diwujudkan jika tidak disertai dengan komitmen yang kuat.
Kondisi riel saat ini karakter bangsa Indonesia semakin lemah, hal ini dapat dilihat makin banyak gejala penyalahgunaan kewenangan, kekuasaan, kecurangan, kebohongan, ketidakjujuran, ketidakadilan, ketidakpercayaan. Penegak hukum yang semestinya harus menegakkan hukum, ternyata harus dihukum; para pejabat yang seharusnya melayani masyarakat, malah minta dilayani; anak didik kita kurang percaya diri dalam menghadapi setiap persoalan, ini sebagian fenomena yang kita hadapi sehari-hari, dan ini semua bersumber dari karakter. Anis Matta (2002) mensinyalir terjadinya krisis karakter tersebut antara lain disebabkan oleh (a) hilangnya model-model kepribadian yang integral, yang memadukan keshalihan dengan kesuksesan, kebaikan dengan kekuatan, kekayaan dengan kedermawanan, kekuasaan dengan keadilan, kecerdasan dengan kejujuran, (b) munculnya antagonisme dalam pendidikan moral, sementara sekolah mengembangkan kemampuan dasar individu untuk menjadi produktif, sementara itu pula media massa mendidik masyarakat menjadi konsumtif.
Kondisi tersebut menyadarkan akan pentingnya pendidikan karakter khususnya bagi mahasiswa sebagai calon-calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Menyadari akan pentingnya pendidikan karakter tersebut, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai lembaga pendidikan tinggi kependidikan merasa terpanggil untuk mengembangkan dan mengimplementasikan pendidikan karakter bagi mahasiswa. Hal ini tercermin pada tema Dies Natalis ke 47 UNY tahun 2011 ini adalah “pendidikan karakter untuk semua”. Tema tersebut menggambarkan semangat UNY untuk mengembangkan pendidikan karakter bagi mahasiswa sebagai landasan untuk pengembangan UNY kedepan.
Implementasi pendidikan karakter bagi mahasiswa UNY dilakukan secara terintegrasi pada kegiatan kurikuler (melalui perkuliahan dibawah koordinasi bidang akademik), kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler (dibawah koordinasi bidang kemahasiswaan). Pelaksanaan pendidikan karakter mengacu pada pedoman implementasi pendidikan karakter dan pengembangan kultur UNY tahun 2010, bahwa pendidikan karakter bersifat komprehensip, sistemik, dan didukung oleh kultur yang positif serta fasilitas yang memadahi. Nilai-nilai target yang diintegrasikan dalam proses perkuliahan meliputi: (1) taat beribadah, (2) jujur, (3) bertanggungjawab, (4) disiplin, (5) memiliki etos kerja, (6) mandiri, (7) sinergis, (8) kritis, (9) kreatif dan inovatif, (10) visioner, (11) kasih sayang dan peduli, (12) ikhlas, (13) adil, (14) sederhana, (15) nasionalisme, dan (16) internasionalisme. Strategi pengintegrasian pendidikan karakter dalam proses perkuliahan dilakukan bervariasi, disesuaikan dengan ciri khas mata kuliah. Pencapaian target nilai-nilai yang dikembangkan tersebut dilakukan secara bertahap.
Pentahapan pencapaian target nilai-nilai tersebut adalah:
1. Tahap Pengenalan, sasaran pada tahap ini adalah mahasiswa pada Semester I-II. Pada tahap ini program utama adalah succes skill yang berupa kegiatan yang bertujuan untuk memberikan motivasi pada mahasiswa, yang baru saja lepas dari masa pendidikaan di sekolah lanjutan ke jenjang perguruan tinggi. Materi yang diberikan berisi pengenalan diri, pengenalan nilai-nilai moral, kepribadian, dan metode belajar di perguruan tinggi.
2. Tahap Penyadaran, sasaran pada tahap ini adalah mahasiswa pada Semester III-IV. Pada tahap ini program utama adalah pengembangan kreativitas mahasiswa. Kegiatan dilakukan melalui organisasi kemahasiswaan baik tingkat universitas, fakultas, jurusan/program studi, dan melalui unit-unit kegiatan mahasiswa. Melalui kegiatan-kegiatan ini mahasiswa diharapkan tumbuh kesadarannya akan pentingnya membekali diri dengan berbagai kemampuan untuk menghadapi masa depan yang penuh kompetitif.
3. Tahap Pertumbuhan, sasaran pada tahap ini adalah mahasiswa semester V-VI. Program utama pada tahap ini adalah kegiatan-kegiatan yang berdampak pada pengembangan jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan peningkatan produktivitas dengan inovasi-inovasi baru.
4. Tahap Pendewasaan, target sasaran pada tahap ini adalah mahasiswa semester VII-VIII. Program utama diarahkan pada pembentukan sikap dan kesiapan mahasiswa setelah lulus untuk memasuki lapangan kerja atau menciptakan peluang kerja, kegiatannya berupa pelatihan/workshop sukses meraih peluang kerja, pengembangan karir, job hunting, dsb.
Pentahapan program pembinaan kemahasiswaan tersebut diharapkan dapat menjangkau sasaran seluruh mahasiswa baik melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler maupun kegiatan ekstra kurikuler. Dengan demikian ada keterpaduan secara sinergis antara kegiatan kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler. Melalui pembinaan kemahasiswaan secara berkelanjutan diharapkan lulusan UNY mempunyai bekal kemampuan akademik, kepribadian yang kuat, jiwa kemandirian, serta kemampuan-kemampuan lain (soft skill) yang menjadi ciri kepribadian yang mempunyai karakter bagus.
Secara rinci kegiatan kemahasiswaan dalam rangka implementasi Pendidikan Karakter dapat dijelaskan berikut INI.
1. Implementasi Pendidikan Karakter bagi Mahasiswa
No Jalur kegiatan Jenis kegiatan
1 Kurikuler Terintegrasi melalui perkuliahan
2 Kokurikuler Kegiatan terprogram dan terstruktur:
1. Succes skill (ESQ training, OSPEK)
2. Tutorial Pendidikan Agama
3. Creativity training
4. Leadership training
5. Entrepreneurship training

3 Ekstrakurikuler

Kegiatan yang dirancang untuk mengembangkan bakat, minat, dan kegemaran mahasiswa:
1. Penalaran
2. Olahraga
3. Seni
4. Minat khusus

Implementasi pendidikan karakter melalui kegiatan kokurikuler dilakukan secara terstruktur dan terprogram melalui, tahapan-tahapan yaitu
(1) pelatihan Emotional Spiritual Question (ESQ) yang diikuti oleh seluruh mahasiswa tahun pertama, kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan ESQ 165 Center dibawah pimpian DR (HC) Ari Ginanjar. ESQ dilaksanakan sejak tahun 2008, kegiatan dilakukan 2 hari dengan materi pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan social. Dengan pelatihan ESQ diharapkan mahasiswa mempunyai pemahaman tentang makna kehidupan bagi manusia,
(2) tutorial agama, setiap mahasiswa yang mengambil mata kuliah agama, diberi kesempatan untuk mendalami pemahaman materi kuliah melalui tutorial yang dilakukan olah mahasiswa senior dibawah koordinasi dosen pendidikan agama. Melalui kegiatan tutorial ini diharapkan setiap mahasiswa mempunyai pemahaman yang mendalam terhadap keyakinannya, sehingga diharapkan mahasiswa dapat melaksanakan ibadahnya sesuai dengan agama yang dianutnya secara baik. Dengan demikian mahasiswa akan selalu diingatkan agar menjalankan syariat agamanya sehingga tercapai keseimbangan antara kebutuhan intelektual dan spiritualnya.
(3) pelatihan kreativitas dilaksanakan pada tahun kedua. Pelatihan kreativitas dimaksudkan untuk mengembangkan kreativitas mahasiswa melalui berbagai aktivitas dan kegiatan. Implementasi pelatihan kreativitas dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan seminar, penelitian mahasiswa, penerbitan mahasiswa, olimpiade IPA, debat bahasa Inggris, kontes robot, dan kegiatan lain yang diselenggarakan oleh Unit-unit kegiatan mahasiswa, baik seni, olahraga, dan penalaran.
(4) pelatihan kepemimpinan dilaksanakan pada tahun ketiga, bentuk pelatihannya antara lain latihan ketrampilan manajemen mahasiswa (LKMM), implementasi pelatihan kepemimpinan ini dapat dilakukan mahasiswa melalui berbagai organisasi intra universitas yang ada di UNY. Melalui organisasi tersebut mahasiswa dapat melakukan praktek-praktek kepemimpinan selama satu periode kepengurusannya.


(5) pelatihan kewirausahaan dilaksanakan pada tahun keempat. Setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengajukan proposal kegiatan wirausaha yang dananya dari hibah program mahasiswa wirausaha (PMW). Melalui program PMW mahasiswa melakukan praktek-praktek wirausaha sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya dan potensi pasar.

D. Nilai-nilai Karakter yang Dibagun melalui kegiatan Kemahasiswaan
Pelatihan ESQ diharapkan akan menanamkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, tanggungjawab, kerjasama, keadilan, dan kepedulian. Tutorial pendidikan agama menanamkan nilai-nilai ketaqwaan, keimanan, kepatuhan, kejujuran, tanggungjawab, komitmen, dan disiplin. Sedangkan pelatihan kreativitas diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai kreatif, motivasi, berfikir kritis, keingintahuan, dan keberanian untuk pampil beda. Pelatihan kepemimpinan bagi mahasiswa menanamkan nilai-nilai tanggungjawab, disiplin, keteladanan, dan kejujuran, sedangkan pelatihan kewirausahaan diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai keuletan, kecermatan, pantang menyerah, dan kemandirian.


Kegiatan ekstrakurikuler untuk memberikan kesempatan pembinaan dan pengembangan potensi mahasiswa. Wadah kegiatan mahasiswa melalui jalur ekstrakurikuler berupa organisasi kemahasiswaan (Ormawa) dan Unit-unit kegiatan mahasiswa (UKM). Ormawa untuk mengembangkan minat mahasiswa pada aspek tata kelola organisasi, kepemimpinan, dan managemen, sedangkan UKM untuk mengembangkan potensi mahasiswa melalui kegiatan di bidang olahraga, seni, penalaran, dan minat khusus (pramuka, KSR PMI, resimen mahasiswa, pecinta alam). Melalui kegiatan penalaran mahasiswa akan berlatih bagaimana berfikir dan bernalar secara kritis; melalui kegiatan olahraga akan tertanam nilai-nilai sportivitas, disiplin, kerjasama team, menghargai waktu, dan pantang menyerah; melalui kegiatan seni diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai harmoni dan pengendalian emosi. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui kegiatan ekstrakurikuler tersebut diharapkan dapat tumbuh dan berkembang seiring dengan intensitas kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa selama belajar di kampus. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi mahasiswa menjadi kemampuan-kemampuan keilmuan, seni, olahraga maupun minat khusus yang lain. Kegiatan melalui jalur kokurikuler dan ekstra kurikuler tersebut harus didukung melalui jalur kurikuker. Jalur kurikuler ujung tombak pembinaan adalah dosen pengampu mata kuliah serta pengelola jurusan/program studi. Oleh karena itu sangat diharapkan setiap dosen mempunyai komitmen yang sama dalam mengimplementasikan pendidikan karakter ini, dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai karakter kedalam muatan mata kuliah pada setiap tatap muka dengan mahasiswa.
Keberhasilan Pendidikan karakter bagi mahasiswa, tidak hanya tergantung pada perencanaan yang rapi dan kelancaran pelaksanaan program, namun juga tergantung pada keteladanan. Oleh karena itu perlu keteladanan dari unsur pimpinan, dosen, karyawan, yang menjadi tuntunan bagi mahasiswa dalam berperilaku dan bertindak. Berkaitan dengan keteladanan ini Ki Hajar Dewantara telah mewariskan asas-asas pendidikan yang masih relevan sampai kini dan yang akan datang. Asas-asas pendidikan tersebut adalah momong, among, dan ngemong, sehingga tercipta tertib dan damai tanpa paksaan sesuai dengan kodrat alam peserta didik. Kodrat alam ini diwujudkan dalam bersihnya budi yang didapat dari tajamnya angan-angan (cipta), halusnya perasaan (rasa), dan kuatnya kemauan (karsa). Seorang pamong (guru) sebagai pemimpin dalam melaksanakan proses pembelajaran tanpa paksaan melalui asas ing ngarsa sung tuladha, di depan murid-muridnya guru memberikan tauladan, ing madya mangun karsa, di tengah murid-muridnya memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mau belajar keras menggali ilmu, baik melalui pembahasan tugas-tugas, pekerjaan rumah, studi kasus, dan lainnya, serta tut wuri handayani, di belakang memberikan bantuan, dorongan (empowerment), bila peserta didik memerlukan selama proses pembelajaran (student centered active learning).

E. UPAYA IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN KARAKTER MAHASISWA
Pembinaan kemahasiswaan melalui berbagai kegiatan diharapkan dapat menghasilkan sosok mahasiswa yang
(1) cerdas komprehensif (cerdas spiritual, emosional/sosial, intelektual, dan kinestetik),
(2) memiliki kemauan dan kemampuan untuk berkompetisi,
(3) memiliki kemampuan untuk menuangkan daya kreasi,
(4) mampu untuk menangkap ide-ide dosen dan perkembangan lingkungan,
(5) tanggap dan memiliki sensitivitas terhadap realita kehidupan di masyarakat , dan
(6) mendapatkan kesempatan untuk menggunakan fasilitas-fasilitas dan membangun jaringan baik di dalam dan di luar kampus.

Untuk mewujudkan harapan-harapan tersebut diperlukan upaya-upaya untuk mencapainya.
1. Mengembangkan kurikulum bersifat holistik yang dapat mengembangkan kompetensi mahasiswa pada ranah
(a) kecerdasan spiritual yang diorientasikan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa di bidang keimanan dan akhlakul-karimah (akhlak mulia),
(b) kecerdasan emosional dan Sosial yang diorientasikan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap permasalahan sosial yang berkembang di masyarakat,
(c) kecerdasan kinestetik, dimaksudkan untuk meningkatkan kebugaran, kesehatan, keterampilan, dan kedayatahanan mahasiswa dalam meningkatkan daya saing bangsa,
(d) kecerdasan intelektual, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstra kurikuler sesuai dengan potensinya.

2. Intensitas kegiatan mahasiswa melalui jalur kokurikuler dan ekstrakurikuler dalam rangka pengembangan; (a) penalaran keilmuan dan kreativitas mahasiswa melalui kegiatan seminar akademik, penelitian, penulisan karya ilmiah, (b) minat dan bakat seni melalui unit-unit kegiatan mahasiswa olah suara, music, karawitan, tari, teater, (c) minat dan bakat olahraga untuk menjaga kebugaran jasmani, pembinaan dan peningkatan prestasi sesuai dengan minat dan potensi di bidang olahraga.

3. Memberikan akses kepada mahasiswa untuk melakukan pendalaman pengetahuan dan penghayatan sesuai dengan keyakinan yang dianutnya melalui tutorial pendidikan agama, diskusi-diskusi keagamaan, bedah buku keagamaan, dsb.

4. Memberikan apresiasi terhadap keberhasilan mahasiswa baik di bidang akademik maupun non akademik, sebagai wujud komitmen lembaga dalam usaha pencapaian visi menghasilkan lulusan yang bernurani, mandiri, dan cendekia.

5. Mendorong mahasiswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan berusaha mencapai prestasi yang maksimal. Untuk itu mahasiswa harus
(a) membuat goal yang jelas dalam membentuk karakter (ingin dicitrakan sebagai apa?),
(b) aktif berinteraksi dan berpartisipasi dalam kegiatan kemahasiswaan yang berfokus pada pembentukan karakter,
(c) memiliki role model orang sukses, pelajari outobiografinya dan tiru kebiasaan menuju hidup sukses,
(d) rajin membaca buku yang bermuatan pengembangan kepribadian dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (cara berkomunikasi, saling menghargai, disiplin, komitmen, bertanggungjawab dan senantiasa jujur),
(e) aktif dalam proses pembelajaran sebagai pembelajar yang partisipatif dan dapat menggunakan sumber belajar multi dimensi

Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan lulusan UNY akan menjadi manusia yang tangguh, yaitu lulusan yang mempunyai kemampuan untuk dapat mengendalikan diri, berlaku sabar, tahan uji dengan penuh kesabaran, dan selalu bersyukur atas nikmat yang diterimanya, merupakan wujud dari karakter manusia yang tangguh. Karakter manusia yang tangguh sangat diperlukan bagi pembangunan bangsa. Bangsa yang mempunyai karakter tangguh tercermin pada moral, etika dan budi pekerti yang baik, serta mempunyai semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran positif dan sikap yang optimis, serta dipenuhi rasa persatuan dan kebersamaan yang tinggi. UNY sebagai icon pendidikan karakter di perguruan tinggi, diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang mempunyai karakter yang tangguh, mempunyai bekal kemampuan akademik yang tinggi, pribadi yang kuat, ulet, mandiri, kreatif, dan mempunyai kemampuan managerial dan kepemimpinan.

Daftar Pustaka
Buku saku Mahasiswa Etika Tata Tertib Mahasiswa Tahun 2008. Yogyakarta. Bagian Kemahasiwaan UNY
Direktorat Kelembagaan, Ditjen Dikti Depdiknas. (2006). POLBANGMAWA (Pola Pengembangan Kemahasiwaan). Jakarta.
Hadiwaratama. (2002). “Pendidikan Kejuruan, Investasi Membangun Manusia Produktif”.
Herminarto Sofyan. (2008). Optmalisasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi pada pendidikan Teknik Otomotip. Pidato pengukuhan Guru Besar pada Rapat Senat terbuka UNY, 16 Februari 2008.

Informasi Kegiatan Kemahasiswaan UNY 2005
Kepmendiknas No 155/U/1998 tentang Pedoman Umum Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) di Perguruan Tinggi
Keputusan Dirjen Pendidikan Tibggi No 26/Dikti/Kep/2002, tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam Kehidupan Kampus.

Muhammad Anis Matta. (2002). Membentuk Karakter Cara Islam. Jakarta: Al-I’tishom.
Pedoman implementasi pendidikan karakter dan pengembangan kultur UNY tahun 2010,
Senge, Peter. (2000). Schools that learn: A fifth discipline field books for educators, parents, and everyone who cares about education. New York: Doubleday.
Stolp, Stephen & Smith, Stuart C. (1975). Transforming school culture: Stories, symbols, values and leaders’ role. Eugene, OR: ERIC, Clearinghouse on Educational Management University of Oregon.
UU RI No 2 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar